ASYX bermitra dengan PBB untuk Mempercepat Pemulihan 7.000 Pengusaha UMKM Wanita di Indonesia

Jakarta, 2 Agustus 2021 - Organisasi Persatuan Bangsa-Bangsa (PBB) melalui The United Nations Capital Development Fund (UNCDF) dan The United Nations Economic and Social Commission for Asia and the Pacific (ESCAP) bersama mitra FMO, Visa Inc., Pemerintah Kanada dan Australia telah mengumumkan ASYX Indonesia (ASYX) sebagai salah satu pemenang mitra program Dana Pemulihan Usaha Wanita. Dengan dukungan UNCDF dan UNESCAP. ASYX selama dua belas (12) bulan ke depan akan meluncurkan serangkaian inovasi dan pendampingan untuk 7.000 Pengusaha Wanita UMKM Indonesia.

Dengan inisiatif ini, ASYX akan membantu para pengusaha perempuan Indonesia dalam pemulihan bisnis dan menempatkan usaha mereka kembali ke jalur pertumbuhan melalui sejumlah teknologi digital dan literasi keuangan. ASYX akan bekerja sama dengan pemerintah daerah, inkubator dan akselerator UKM, serta mitra asosiasi industri seperti APINDO UKM Academy untuk mengimplementasikan program ini secara nasional mulai Agustus 2021.

"Pengakuan dan kepercayaan pihak internasional yang diberikan kepada kami merupakan suatu kehormatan. Kami selalu percaya bahwa untuk bisa mendorong UMKM Indonesia maju, apalagi di masa yang penuh tantangan seperti pandemi ini perlu lebih banyak upaya yang dikerahkan. Jika UKM didukung kekuatan kelembagaan, inovasi dan kerangka hukum yang baik maka penambahan nilai usaha UKM dapat diperkuat," kata Lishia Erza Budiman ASYX Group CEO

"Di Indonesia, populasi ukuran usaha didominasi oleh usaha mikro yang jumlahnya di Indonesia melebihi 63 juta unit (98,7%), sementara kelompok minoritas sebanyak 1% adalah usaha kecil (783.000) dan menengah (60.000). Pelaku UKM terutama yang dipimpin oleh wanita dapat memperoleh manfaat lebih banyak dengan literasi digital dan keuangan yang lebih baik untuk memperkuat peran mereka di rantai pasok, supaya UKM wanita yang terdampak dapat segera pulih dan kembali membangun keberlangsungan pertumbuhan usaha mereka," jelas Lishia lebih lanjut.

Rangkaian kegiatan pemulihan yang berada di bawah program ASYX HOORI Scale Up saat ini akan diluncurkan sebagai inisiatif MELATI Nusantara. ASYX MELATI akan memberikan berbagai solusi digital, fasilitasi pembiayaan peralatan produksi dan modal kerja, serta dukungan pelatihan kepada UMKM yang dimiliki, dikelola atau dipimpin oleh perempuan. Tujuan yang lebih besar dari program ini adalah untuk memasyarakatkan dan meningkatkan solusi Digitalisasi Supply Chain Financing (SCF) bagi badan usaha di Indonesia khususnya di industri garmen/fashion dan rantai nilai pertanian. Rantai nilai industri-industri tersebut merupakan beberapa penyumbang terbesar bagi perekonomian Indonesia, baik secara domestik maupun internasional.

Pandemi COVID-19 telah berdampak kepada setiap lapisan ekonomi di kawasan Asia-Pasifik. Bagi usaha mikro, kecil dan menengah (UMKM) dampak disrupsi pandemi sangat menghancurkan, ditandai dengan penurunan pendapatan usaha secara signifikan serta hilangnya banyak lapangan kerja; belum lagi peningkatan ketidaksetaraan sosial dan tingkat kemiskinan sebagai dampak tidak langsungnya. ESCAP memperkirakan bahwa pandemi ini dapat mendorong 150 juta orang ke dalam jurang kemiskinan pada tahun 2021, yang mengeliminasi semua kemajuan yang telah dicapai selama ini dalam Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDG).

Dampak pandemi terhadap para pengusaha wanita telah terjadi secara tidak proporsional. Sebelum pandemi, pengusaha perempuan menghadapi tantangan yang berkaitan dengan legalitas usaha. Umumnya kemampuan UKM terbatas untuk memenuhi persyaratan agunan atau jaminan kredit, keterbatasan arus kas dengan pencatatan usaha yang terbatas, serta literasi digital dan keuangan yang tidak memadai; dimana semuanya mempengaruhi kemampuan mereka untuk mengakses layanan keuangan formal. Dengan terjadinya pandemi COVID19, tantangan usaha yang dijalankan wanita menjadi semakin berlipat ganda. Di atas tantangan usaha, kondisi resiko kesehatan yang buruk juga menciptakan beban tambahan seperti tanggung jawab rumah tangga yang berlipat.

"Pandemi telah mengungkap ketidaksetaraan di sekitar kita dan menonjolkan adanya kebutuhan untuk membangun kembali dengan lebih baik, inklusif, tangguh, dan berkelanjutan," kata Wakil Sekretaris Eksekutif ESCAP Kaveh Zahedi. "Untuk mencapai ini, secara khusus kita harus menjembatani kesenjangan digital dan eksklusi keuangan yang dihadapi oleh para pelaku UMKM wanita. ESCAP dengan bangga dapat berkolaborasi dengan UNCDF, VISA, FMO - Bank Pengembangan Kewirausahaan Belanda serta mitra keuangan Pemerintah Kanada, untuk mendukung teknologi digital dan solusi keuangan digital khusus untuk pengusaha perempuan yang terkena dampak pandemi."

Dari 83 pengajuan aplikasi yang diterima dari Asia, hanya 10 perusahaan yang dipilih sebagai kolaborator di Indonesia, Bangladesh, Kamboja, Nepal, dan Vietnam.

Sekretaris Eksekutif UNCDF Preeti Sinha, menjelaskan "UNCDF memiliki peran unik dalam mendukung inovasi inklusif dalam sistem ekonomi, seperti untuk pelaku usaha perempuan di ujung hilir rantai pasok. Transformasi digital sangat krusial untuk memberi kemampuan bangkit, pulih, dan menjadi lebih tangguh. Kami bangga bermitra dengan ESCAP, Visa, dan FMO melalui Women Enterprise Recovery Fund untuk mendukung pengembangan dan perluasan solusi digital yang meringankan kendala yang dialami perusahaan perempuan, terutama yang terkena dampak pandemi."

"Visa berkomitmen untuk membantu usaha kecil dan mikro berkembang. Kami percaya pada kekuatan pengusaha perempuan untuk memajukan ekonomi. Dengan adanya Covid-19, fokus kami untuk memberdayakan dan mengangkat perempuan menjadi lebih penting dari sebelumnya karena kami mencari cara untuk berkontribusi pada pemulihan ekonomi yang adil. Bersamaan dengan komitmen global kami untuk membekali secara digital 50 juta UKM pada akhir tahun 2023, kemitraan di Women Enterprise Recovery Fund ini bersifat strategis karena solusi digital bagi pengusaha perempuan yang ditawarkan di kawasan ini dapat digulirkan," kata Nate Low, Direktur Senior, AP Social Impact, Visa.